Kuliah di Yogyakarta »» Person

Menyajikan Zuppa Soup ala Alfi

By Admin | Monday, August 20th, 2012n | in Person | 1279 Views

Dimana kalian bisa menemukan soup dengan pastry diatasnya? Yap benar, zuppa soup memang sering hadir di acara pernikahan atau di beberapa toko roti yang juga menjual zuppa soup tapi tidak secara khusus. Alfiat Kurnia Graha, mencoba keberuntungannya membuka usaha kuliner dengan menu special zuppa soup. Dengan berbagai varian yang ada di soup, Alfi, panggilan akrab pemuda ini, memutuskan memberi nama usahanya dengan nama Zupparella.

“Dulu mikir, apa ya makanan yang belum banyak dijual dipasaran. Akhirnya kepikiran buat zuppa soup. Itukan nemuinnya cuma di acara nikahan, kalo mau beli dimana juga bingung kan.” ungkap pemuda yang ditemui Tim SIJ di Angkringan Zupparella Jalan Kaliurang.

Setelah mantap dengan modal, cara berjualan model angkringan, kemudian secara perlahan, pemuda kelahiran tahun 1989 ini mulai mencari market, karena makanan yang dihadirkan adalah makanan high end tapi dijual dengan low cost. Akhirnya Zupparella mulai beroperasi pada tanggal 26 Juni 2010, dengan harga rata-rata yang pas dikantong yaitu 10 ribu rupiah per mangkok. Pemuda yang juga mendapat beasiswa semasa kuliah di Sastra Prancis UGM ini, mengaku jika harus mencoba berkali-kali untuk membuat soup  sendiri hingga sampai menjadi rasa lezatnya saat ini. Proses yang dilalui tentunya tidak cepat, Alfi tanpa sedikit pun terlintas untuk melihat menu zuppa soup di internet ini, menerapkan cara trial and error.

“Kalau waktu launching, itu jujur  rasanya nggak karuan, tapi kita beraniin untuk jual. Kita panggil teman-teman, orang terdeket, prinsipnya, terserah mereka mau nyobain berapa banyakpun ga masalah tapi mereka harus kasih saran dan kritik. Dari komentar mereka, terus dikembangkan zuppa soup ini” ujar pencinta pop music.

Sebutan multitasking, memang pas untuk alumnus SMA De Britto Yogyakarta ini, karena dari belanja, masak, marketing, pembukuan, ia mengelolanya sendiri. Marketing yang diterapkan adalah mulut ke mulut, sampai akhirnya Alfi membuka cabang baru di Taman Wisata Kuliner Pringwulung, ia mulai memanfaatkan media sosial seperti twitter untuk promosi.  Usaha yang memang dengan venue angkringan ini, membutuhkan tim yang solid, karena sebelum berjualan, tim harus mengeluarkan gerobak, menata kursi dan juga persiapan untuk jualan. Untuk itu Alfi mempunyai orang kepercayaan untuk menjaga kesolidan tim di usahanya ini. Rata-rata tim dari Alfi adalah adik-adik angkatan yang memang senang mengisi waktu luang dengan part timer. Hambatan yang dulu dirasakan anak kedua dari dua bersaudara ini, lebih karena tempat, sebelum membuka cabang di Pringwulung.

“Kan yang di Jalan Kaliurang ini modelnya angkringan jadi agak susah, harus ngatur – atur tiap sore. Ribetnya kalau salah satu anggota tim ada yang sakit itu susahnya.”

Menurut pemuda yang suka kuliner dan nonton ini, untuk membuka peluang usaha, tentunya kita harus berusaha, jangan takut untuk mencoba dan mengambil resiko. ”Namanya resiko itu kan selalu gak enak, dan gimana caranya kita berusaha mengatasinya. Tentunya dengan usaha yang kita bikin bisa menghasilkan yang baik buat orang lain. Ingat juga semua itu harus di perhitungkan dengan riil.”

Study In Jogja : Karina Erika