Jika Aku Menjadi Presiden …….

Siapakah yang masih bercita-cita menjadi Presiden ditengah kemelut yang ada di Negara kita ini?? Mungkin hanya segelintir orang saja yang menyatakan mampu dan siap. Oh… ternyata tidak begitu juga, masih banyak generasi muda yang ingin mencoba mengembalikan kejayaan Indonesia, hal ini terbukti dari antusias mereka mengikuti, Reality Show I Am President, yang diadakan di 8 kota dengan tema peserta wajib membangun visi Indonesia di tahun 2030.

Yogyakarta termasuk sebagai kota yang dituju untuk dilakukan audisi, dan terpilihlah salah satu finalisnya, Muhammad Reza Syarifuddin Zaki. Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada ini merasa termotivasi untuk mengikuti Lomba Orator jika menjadi Presiden. Nantinya di Jakarta akan dipilih 10 orang dari sekitar 30 finalis di 8 kota tadi. 10 orang itu akan di kirim ke 5 negara, selama 3 bulan, untuk merangkai visi Indonesia 2030.

“Saya dapat info dari BEM Seluruh Indonesia, kemudian saya mencoba untuk mendaftar. Awalnya saya memang agak bingung, apa saja yang perlu saya lakukan, namun setelah saya dalami 2 babak. Saya jadi belajar banyak, sampai saya harus mempelajari formula 2030 yang di buat Chairul Tanjung, dan belajar visi misi negara-negara lain di tahun 2020. Saya juga melihat potensi-potensi yang dimiliki Indonesia sambil saya kembangkan. Sebagai contoh, saya mencoba memaparkan seperti wisata, kita punya 70 ribu desa di Indonesia. Desa-desa itu yang berpotensi sebagai wisata, kita bisa kembangkan untuk meningkatkan wisata asing berkunjung ke Indonesia, kemudian disitu juga ada teknologi, knowledge, dan exchange culture yang bisa dimanfaatkan untuk menambah devisa negara.” ungkap pemuda yang mendirikan ASEAN Student Organization Network, lembaga BEM se Asia Tenggara.

Alasan pemuda yang suka menulis artikel di berbagai media, tetap teguh pada cita-citanya sebagai Presiden karena rasa resah akan keadaan saat ini. Sejak di SMA, ia sudah menjadi ketua OSIS, mulai mengeluti dunia politik. Pemuda yang menjadi delegasi untuk ASEAN Student Organization Network juga merasakan memimpin teman-teman yang hanya 100 orang saja sulit ya, apalagi untuk menjadi presiden. Untuk itu, dari sekarang, ia terus mencoba untuk belajar.

“Saya pikir, jika teman-teman seangkatan saya, punya pontensi, kemampuan, dan kemudian tidak masuk ke lini birokrasi, bisa dikatakan negeri ini akan segera runtuh, dan bisa dikatakan negeri dongeng. Saya ga bisa berharap lagi, ketika nanti anak cucu kita dengan bangganya bilang kalau kita dari Indonesia.”

Pemuda yang aktif juga menjadi juri debat ini mengungkapkan jika keadaan Indonesia saat ini lebih  seperti auto pilot. Yang diartikan seperti ini, Presiden dengan DPR bertengkar, mereka membicarakan persoalan yang tidak pernah ketemu, dan akhirnya pesawat itu dikendalikan oleh masyarakat. Ada yang mengatakan tidak perlu menjadi Presiden untuk mengubah bangsa ini? Namun, pemuda kelahiran tahun 1989 ini menjelaskan dengan meraih kekuasaan itu adalah bagian dari kita untuk merubah kebijakan. Semisal Jokowi di Solo sebagai walikota, atau sekarang menjadi Gubernur, dia bisa mengubah sistem, dengan member kartu sehat, menghapus kebijakan, dan sebagainya. Itulah yang baru dikatakan ideal untuk bangsa, dengan adanya pemimpin.

“Mahasiswa Indonesia masih ya ada yang peduli, sebagai contoh adanya demontrasi, itu adalah bentuk keprihatinan mahasiswa. Memang yang tergambar lebih ke sisi negatif, tapi sebenarnya itu bentuk kepedulian. Tapi kita bisa mencari bentuk kepedulian yang positif juga, semisal teman-teman Solo, membuat mobil esmeka, atau teman-teman UGM membuat pesawat tanpa awak, di TV juga mulai ada animasi karya anak bangsa, Inilah bentuk kepedulian mereka terhadap Indonesia. Baik dari segi sains atau sosial. Pointnya adalah bagaimana kita membangun manafuturing, kalo kita mikir industri mobil, dan sebagainya, selesaikan dulu industri harapan. Itu lebih prioritas.” jelas pemuda yang pernah mendapatkan beasiswa dari Megawati Institute.

Ketika media, mengangkat sisi negatif. Sedangkan GNFI mengangkat sisi positif, yang mungkin tidak dibangun oleh orang Indonesia, tapi orang asing. Ini sebenarnya harus kita angkat, karena kalau dari pidato Zaki 2030, Indonesia mampu menduduki 5 besar di dunia, itu dari sisi ekonomi, belum sisi hukum, pendidikan dan sebagainya. Pesan Zaki untuk mahasiswa, khusysnya di Jogja adalah bagaimana bisa kita menjadi negarawan yang nasionalis, jika kita tidak mau terbuka. Kita harus berani membuka diri terhadap globalisasi, karena memang, negara berkembang menuju sebagai negara maju, tidak hanya meramal, tapi ayo lakukan dari hal kecil sekarang juga.

Study In Jogja : Karina Erika

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>