Kuliah di Yogyakarta »» Person

Dwi Suwiknyo, Kaya Dengan Menulis

By Admin | Monday, June 25th, 2012n | in Person | 1928 Views

Siapa suka menulis? Siapa merasa susah untuk menulis? Menulis itu bukan soal bakat. Ini murni keterampilan, jadi menulis itu bisa karena terbiasa. Yang ada itu bukan tidak bisa menulis, tapi tidak percaya diri. Biasanya begitulah keluhan anggota baru, “Malu, tulisan masih jelek.” Padahal kalau sedang proses belajar kan memang tulisan belum bagus. Seperti kita latihan naik sepeda, awalnya sering jatuh. Tapi terus belajar akhirnya bisa juga. Sama dengan menulis, semakin rajin menulis, semakin terasah. Begitu ungkap Dwi Suwiknyo.

Dwi Suwiknyo adalah salah satu generasi muda yang berperan aktif dalam dunia tulis-menulis, ia pun mengembangkan Pesantren Penulis. Sejak SMP pria kelahiran Kendal ini sudah belajar di Pondok Pesantren hingga mahasiswa. Di pondok itu, ia suka baca buku dan menulis. Mulai menulis puisi, untaian hikmah, menulis untuk majalah dinding, bulletin jum’at, majalah, hingga akhinya menulis buku. Karena itulah, Pesantren Penulis didirikan sebagai aktualisasi ilmu sekaligus kaderisasi penulis muslim. “Terpikirnya sudah sejak tahun 2008 saat saya kuliah S2, tapi karena kesibukan kuliah dan kerja di kampus jadi belum bisa terwujud. Baru tiga tahun setelah itu, saya punya banyak waktu luang. Disela-sela fokus menulis buku, saya buka Pesantren Penulis via online di http://pesantrenpenulis.org/.”

 

Banyak kegiatan yang ada di Pesantren Penulis, untuk nasional ada bimbingan menulis secara online. Dalam penjaringan anggota awal tidak ada proses seleksi, tapi seleksi dilakukan sembari action. Artinya, para anggota penulis akan terseleksi sampai tiga tingkatan sesuai kualitas yang telah ditentukan. Sedangkan untuk kegiatan offline, ada kerja sama training menulis dengan lembaga dakwah kampus, organisasi kampus, dan terutama training menulis di pesantren-pesantren.

“Alhamdulillah sudah banyak, tapi untuk penulis yang berada di tingkat kualitas terbaik (yakni tingkat ketiga) masih sedikit. Seleksi alam ya, siapa yang giat belajar dan tak lelah berlatih menulis Insya Allah bisa menjadi lebih baik. Selama satu tahun ini, penulis yang kualitas terbaik itu sudah menghasilkan karya buku dan banyak yang sedang berproses menulis buku. Kami memang bekerja sama secara khusus dengan penerbit untuk khusus menerbitkan buku yang kami tulis.” begitu terang pria lulusan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta saat ditanya bagaimana tanggapan masyarakat tentang Pesantren Penulis.

Untuk menulis sehingga bisa berada pada titik layak dibaca, memang susah-susah gampang. Pria yang juga aktif di Jogjakarta Islamic Entrepreneur Forum (JIEF) menjelaskan awalnya, kita bisa menulis apa saja yang ada dalam pikiran dan perasaan kita, itu mudah sekali. Seperti curhat, atau opini pribadi. Jadi menulis sebagai terapi diri. Tulisan sebagai konsumsi pribadi. Lalu lama-lama biasakan menulis hal-hal positif yang bisa memberikan solusi bagi pembaca. Tulisan sebagai konsumsi publik. Peka isu-isu lingkungan sekitar kita, isu-isu teraktual sehingga tulisan bisa memberikan solusi. Sebenarnya kebanyakan individu tidak malas menulis, tapi kurang bisa mengompori diri. “Begini terlalu bergantung pada mood, banyak alasan lagi tidak mood. Seharusnya perbanyak stimulus diri. Cari motivasi dasar kenapa kita harus tetap menulis. Saya sering sampaikan, bahwa “membaca itu menyerap ilmu dari langit, sedangkan menulis itu menebarkan ilmu ke bumi.” Coba itu direnungkan saja.”

 

Salah satu buku yang sudah pernah diterbitkan karya Dwi adalah Jangan Menyerah! (Pustaka Refleksi, 2010), ia pun berbagi tips bagaimana cara menemukan ide untuk menulis : Pertama, dari dalam diri kita sendiri. Seperti sebuah pengalaman hidup bisa menjadi tulisan true story. Kedua, gagasan dari lingkungan sekitar kita. Seperti isu-isu aktual yang sedang banyak dibicarakan media.

Setiap individu pasti pernah merasakan hal-hal dalam setiap jalan kehidupan, begitu pula dengan pria yang juga aktif sebagai trainer ini, “Sebuah tahapan perjuangan. Untuk awal mewujudkan impian, memang butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran. Semua itu harus tetap dijalani, sebab setiap hari selalu ada harapan. Buat impian, target yang jelas, lalu tentukan tahapan-tahapan yang harus dilalui. Insya Allah setiap hari ada perkembangan yang jauh lebih baik.”

Dalam mengembangkan Pesantren Penulis ini, pengagum Nabi Muhammad SAW ini mengaku website http://pesantrenpenulis.org/ saat dibuka langsung ada respon pengujung positif. Ada menu web yang bisa diakses pengunjung umum, tapi ada Menu Member yang hanya khusus untuk anggota penulis. Respon temen-temen pesantren lainnya pun positif, sehingga untuk beberapa kali kami adakan training menulis bersama mereka. Sehingga hambatan terasa tidak ada, hanya butuh kesabaran dalam sosialisasi saja.

Alumnus pasca sarjana MSI Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini juga menerangkan bahwa sukses adalah ketika kita bisa menjadi BOS. Istilah BOS bukan ‘Bikin Orang Stres’, tapi ‘Bikin Orang Sukses’. Semakin banyak orang yang mendapat manfaat atas kehadiran kita, maka di situlah letak sukses kita. Jadi jangan pelit ilmu, bagi-bagi ilmu agar kehidupan orang lain juga bertambah baik.