Ide untuk memulai usaha bisa datang dari mana saja, bila kita jeli melihat sekitar kita, usaha yang kita mulai tidak hanya bisa menguntungkan kita tetapi juga bisa membantu masyarakat sekitar. Hal inilah yang sudah dilakukan oleh Decky Suryata dengan brand usaha yang dinamakannya Salakka.
“Ide itu muncul ketika saya tinggal di daerah yang banyak perkebunan salak, saya juga lihat ada potensi untuk mengelola salak. Asal salak pondoh ini kan dari Jogja ya, tapi rata-rata cuma dibesek atau dikeranjangi, kemudian pas panen harga bisa jatuh, bahkan banyak yang busuk. Dari sini saya merasa ada hal yang harus dilakukan lebih baik”
Mengelola buah salak, itulah usaha dari bapak muda ini. Salak diolah dan dijadikan bahan atau isi untuk berbagai macam khas oleh-oleh seperti bakpia, brownies, saltar, hingga yang terbaru minuman sari salak. Pengolahannya pun cukup rumit, dari salak dengan total berat 50 kilogram, lalu dikupas kulitnya dan arinya, ini hanya menjadi 20 kilogram saja. Belum lagi salak bersih itu masih harus diolah menjadi ‘salak olahan’ paling tidak melewati proses 8 jam. Salak olahan yang dihasilkan dari 50 kilogram salak asli, hanya sekitar seperlimanya saja, yaitu 10 kilogram.
Bayangkan saja proses dari pengolahan salak yang cukup panjang ini yang dijalankan pemuda kelahiran tahun 1983 untuk membuat sejahtera masyarakat sekitar. ”Kita beli dari petani salak itu harus lebih tinggi, bisa jadi 40 persen dari harga pengepul salak. Kemudian untuk ongkos pengupasan salak juga kita bayar secara sendiri.”
Selain proses pengolahan yang cukup memakan waktu, ternyata mengenalkan cita rasa salak kepada konsumen, susah susah gampang. ”Salak itu satu yang perlu kita tahu, ga punya aroma seperti durian, mangga, dan buuah-buah lain. Jadi kalo konsumen mencoba, awalnya pasti meraba-raba, dimana ya rasa salaknya. Disinilah kita ga hanya berjualan, tapi juga mengedukasi, bahwa salak itu ga ada aroma, dan juga menjelaskan proses pengolahan yang panjang. Dari sinilah nanti mereka tertarik untuk promosi oleh-oleh khas Salaka.” ungkap pemuda lulusan Universitas Gajah Mada.
Usaha yang berawal dari tahun 2010 ini dinikmati prosesnya oleh pemuda yang menyabet juara ke dua Wirausahawan Muda Mandiri tahun 2011 bidang Boga. Tidak ada satu hal pun yang bisa kita capai dengan instant, karena saat kita mencapai dengan cepat, nanti penurunannya pun cepat. Diumpakan seperti Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Mana yang mau kita pilih untuk usaha kita. Candi Prambanan dengan bentuknya segitiga sama kaki yang cukup runcing, bisa mengambarkan usaha kita yang naik cepat, turun juga cepat. Sebaliknya Candi Borobudur, dengan bentuk segitiga yang lebih landai, ini juga menggambarkan grafik yang lambat namun stabil.
Jangan pernah meremehkan sebuah mimpi, karena pemuda yang saat ini juga mengelola Omah Salakka, sebuah Family Guesthouse dengan nuansa Etnik Modern Jawa-Bali ini mengatakan semua berawal dari mimpi. Saat itu ia ingin memiliki kebun salak 2.000 meter, namun apa yang terjadi ia dtawari petani salak untuk mengelola kebun salak seluas 10 hektar untuk dijadikan kebun wisata. Dream, Pray and Action, itulah yang dipegang oleh pemuda yang juga belajar dari filosofi tanah.
“Ya tanah, ketika kita melihat tanah, itu biasa saja. Namun, jika kita minta tanah memberikan kita tanaman yang indah, pohon yang rindang, kita juga wajib memberikan pupuk, air, dan digemburkan. Untuk kita yang ingin memulai usaha juga begitu. Kita harus mampu memberikan yang terbaik, pasti kita akan mendapat yang terbaik.Jangan lupakan juga Fokus” jelas Decky diakhir perbincangan dengan tim SIJ.
Study In Jogja : Karina Erika