Kenapa harus beli yang mahal, kalau kita bisa mendapatkan diskon? Nah kata diskon memang selalu membuat kita senang, bahagia, apalagi diskon itu nyata tidak pakai embel-embel. Mengawali sebagai salah satu startup yang beda dari yang lain di Yogyakarta dengan konsep seperti Groupon, mbakdiskon hadir di tengah kita, khususnya untuk mahasiswi pasti sudah akrab dengan mbakdiskon ini. Nah mari kita tenggok sebenarnya siapa yang ada dibalik mbakdiskon? Siapa sosok yang setiap minggunya bisa memberikan diskon-diskon sampai dengan 70% untuk paket makanan, perawatan, tiket, bahkan untuk kursus?
Anggit Tut Pinilih, bersama dua rekannya memulai konsep mbakdiskon ini pada 22 Maret 2011. Berawal dari keisengan Anggit mencoba untuk menawarkan stock kutek dari teman di korea dengan konsep diskon. “Kita awalnya jual lewat twitter, sambil menyiapkan web. Nah sistemnya kita jual dengan diskon awal lalu kalau nambah followernya, diskonnya pun nambah. Sampailah kesekitar 500 follower. Lalu dengan merchant yang kita kenal, mulailah mbakdiskon ini. Awalnya yang beli sedikit, lalu kita jalankan program promosi dan kuis. Dan meminta teman yang beli untuk memberitahu teman yang lain. Dan berjalanlah sampai sekarang kita punya 5000 follower.”
Nama mbakdiskon dipilih tidak langsung tercetus begitu saja, menurut alumnus Universitas Gajah mada ini, karena pada dasarnya ingin berjualan kupon untuk belanja, lalu menentukan positioning brandnya. Apakah brand itu bisa kecewek-cewekan, kecowok-cowokan, atau netral. Nah setelah survey ternyata banyak yang lebih suka untuk brand yang kecewek-cewekan Akhirnya dipakailah kata mbak. Selain itu keinginan kalo ‘mbak’ itu terlihat lebih akrab. Tentunya kita sering mendengar kata ‘mbak mbak’ di sekitar kita. Dengan dipilih nama mbakdiskon seolah-olah adalah sosok yang friendly dan lebih terkesan friendly lagi karena memberikan diskon
Menurut Anggit kita tidak bisa hanya mengandalkan promosi lewat online saja, namun promosi offline untuk memulai usaha harus dijalankan. Nah inilah yang dilakukan Anggit dan pasukan diskon yang sampai saat ini sudah mencapai 17 orang. “Kita biasanya nyebarin brosur tapi dalam bentuk unik. Contoh kita bikin dalam model ketupat pas waktu puasa kemarin. Nah di dalam ketupat itu ada diskon berapa persen, dan untuk dapetin diskon caranya bisa ikut kuis di twitter kita. Selain ketupat kita pernah bagi bagi dalam bentuk kipas. Yang penting kegiatan yang kita buat harus bisa interaktif.”
Tentunya mengawali membuka usaha dengan mengadaptasi Groupon, beberapa orang pasti pernah mengatakan konsep daily deals yang dijalankan mbakdiskon meniru. Bagaimana tanggapan perempuan yang juga aktif di mahamentor ini? “Ya memang saya akui saya meniru dan semua daily deas itu ya meniru, meniru Groupon. Lalu yang bisa kita jelaskan adalah kita memang meniru konsep. Namun kita ada perbedaan, yaitu dengan sistem kuota dan tentunya kita yang ada di Jogja. Kita juga memberikan rata-rata 2 barang atau jasa untuk di pilih. Oh ya dengan sistem kuota ini asyik lho seperti game. Kita harus memenuhi kuota, agar deal diskon yang kita ambil bisa dicairkan.”
Strategi yang dijalankan mahasiswa Strata 2 yang sedang sibuk menyelesaikan tesisnya, untuk mbakdiskon agar berbeda dengan yang daily deals yang mulai bermunculan di Yogyakarta adalah dengan memberikan citra bahwa mbakdiskon itu identik dengan “Yogyakarta”, lalu juga mempertahankan high impact marketing dari word-of-mouth, marketing dengan mulut ke mulut. Mbakdiskon juga mempertahankan sistem kuota yang ada, dengan ini bisa membuat orang untuk berlomba-lomba memenuhi kuota dan mendapatkan diskon.
Mark Zuckerberg, salah satu sosok inspiratif bagi perempuan yang mengaku memiliki kebiasaan buruk dalam manajemen waktu dan sikap kurang tegas ini “Wah sering banget ini takut untuk jatuh saat usaha, sampai sekarang saja merasakan. Tapi menurutku yang penting ada plan dan ini harus tetap di wujudkan. Karena kalau tidak pernah diwujudkan darimana kita tahu rencana itu berhasil atau tidak. Prinsipku kalau gagal tidak papa, kita evaluasi dan memperbaikinya.”
Dengan modal 5 juta memulai mbakdiskon, Anggit juga menceritakan kesulitan awalnya untuk bekerjasama dengan merchant yang terlibat memberikan diskon. “Sulit awalnya, padahal sistem kita mudah. Merchant tidak perlu bayar dimuka, tinggal deal saja. Nah kalau kita bisa menjual sesuai deal dengan kuota yang disepakati, merchant baru membayar komisi ke kita. Nah kalau merchant ga bisa menjual sesuai kuota, ya gapapa dia ga rugi malah sebenarnya dapat iklan gratis selama seminggu. Nah ini tinggal cara kita menjelaskan kepada merchant. Kalo kita jujur dan baik, dan jualnya bagus maka kerjasama kita dengan merchant pasti berjalan baik.”
Daily deals yang bulan Maret kemarin genap berumur satu tahun ini telah memiliki sekitar 20 merchant tetap, dan ada sekitar 150 merchant yang sudah mengisi diskon. Anggit juga mengamati merchant jenis apa yang disukai oleh pembeli. Sebagai contoh seperti perawatan, makanan, studio foto, kursus bahasa inilah beberapa favorite deal yang ada di mbakdiskon.
Perempuan yang pernah aktif sebagai Public Relation di Ngayogjazz Festival Yogyakarta menggambarkan kesuksesan sebagai usaha yang bisa menyenangkan orang lain. “Ibarat dulu mbakdiskon punya customer 500 dan sekarang 5.000, nah dengan memberikan diskon yang bermanfaat aku bisa menyenangkan 5.000 orang itu.”
Untuk kamu yang ingin mengikuti jejak Anggit sebagai pendiri startup lokal, perempuan yangsejak SMA sudah mengenyam pendidikan di Yogyakarta ini berbagi tipas dan trik nya. “Pertama buat bisnis plan, terus tulis juga harapan kamu, terus omsetnya. Gimana cara mencapai omset, tulis juga costnya. Nah pas bikin plan itu kita rencanakan mau bikin bisnis apa? Bisnis yang mau kita jalankan bisa kita liat disekitar, apa yang kira-kira bermanfaat, meniru tidak apa-apa, yang penting punya daya tarik. Lalu buat juga perhitungan yang rapi keuangan kita, baik jangka pendek atau jangka panjang. Jangan lupa untuk sharing dengan teman yang udah pernah buka bisnis atau profesional bisnis. Ya udah kalau mau jalan, tinggal kita pikirkan modalnya. Kalau sudah ada ya langsung jalan, kalau belum ya kita pikirkan cara mencarinya. Nah nyarinya bisa minjem modal atau cari penanam modal.”